Basic need untuk memahami digital analytics data


Apa itu users, sessions dan hits pada digital analytic?

Setiap melihat dashboard GA [sebut: Google Analytic], kita pasti melihat metrik bertulis sessions, visits, conversions, pages, dan teman-temannya. Seluruh istilah tersebut muncul bukan tanpa dasar.  

FYI, semua indikator pada proses digital analytic sebenarnya hanya terdiri dari 3 metrik dasar: users, sessions dan hits. Ketiganya tersusun secara hirarki.

Hirarki indikator analisa digital

So, berikut saya beri penjelasan soal metrik yang sering Anda temui di halaman dashboard GA:

Pengertian dan jenis hits

Hits merupakan bagian paling terperinci dari sebuah data dalam tools analytic. Selain itu, hits pun menjadi pertanda sebagian besar alat analisa mengirim data ke server tool analytic.

Hits bisa kita analogikan sebagai aktivitas klik audience ketika sudah berada di dalam web. Sedang di app, hits adalah touch atau sentuhan pada screen smartphone

Secara teknis, hits akan menjadi stimulasi bagi web atau app untuk mentransmisi informasi dari web atau app ke server pengumpulan data.

Hits merupakan stimulasi yang muncul akibat dari aktivitas audiens di web atau app

Jenis hits sangat beragam, tergantung tools analytic apa yang kita gunakan. Khusus google analytic, berikut jenis-jenis hits:

Pageviews atau screenviews. Kedua istilah ini sebenarnya sama (secara fungsi). Bedanya, pageviews diterapkan pada web sedangkan screenviews pada mobile app. Pageviews/screenviews dipakai mengukur aktivitas audiens saat melihat sebuah konten. Hits ini akan menjadi dasar munculnya metrik lain, seperti: pageviews per visit dan avg. time on page.

Events. Ini difungsikan sebagai pengukur intensitas tindakan audiens pada sebuah konten. Tindakan yang dimaksud yaitu mengklik tombol, mengklik tautan, menggesek layar, dll. Intinya, event akan mencatat segala bentuk interaksi antara audiens dengan konten.

Transactions. Hits ini akan dikirim bila audiens menyelesaikan transaksi e-niaga. Untuk melakukannya, kita perlu menyuntik kode pelacakan e-niaga. Melalui hits ini, kita bisa memperoleh informasi terkait transaksi, seperti: informasi produk (ID, warna, sku, dll.) dan informasi transaksional (pengiriman, pajak, jenis pembayaran, dll.)

Social interaction hit. Hits ini menandakan bahwa audiens melakukan tindakan social interaction, misalnya: klik tombol retweet, tombol +1, atau tombol like. Sama seperti transactions, kita perlu memasukkan kode pelacak informasi social interaction secara manual.

Customized user timings. Hits ini berguna untuk mengukur waktu aktual saat audiens berinteraksi dengan web atau app. Misalnya: waktu antara saat halaman dimuat dan ketika pengguna mengklik tombol.

Sebagai tambahan, hampir sebagian besar hits membutuhkan kode pelacak tambahan. Kode pelacak ini memiliki tiga jenis, yaitu: script JavaScript, SDK, dan measurement protocol. Bedanya:

  • JavaScript dipakai untuk sebagian besar web dan blog
  • SDK diinput pada mobile app dengan sistem operasi Android atau iOS
  • Measurement protocol diterapkan pada Kiosk. Apa itu Kiosk? Kiosk adalah media penyampai informasi, transaksi, promosi, internet, tiketing, juke box, dan lain-lain. Misal: mesin ATM ( Anjungan Tunai Mandiri).

Apa itu session?

Session merupakan kumpulan hits yang berasal dari satu audiens berdasarkan aktivitas atau tindakan.

Ketika audiens terdeteksi oleh tools analytic sedang tidak aktif, maka session akan berhentik mencatat. Sebaliknya, saat audince memulai sesi baru, maka session akan kembali mencatat aktivitas audience.

Umumnya, tools analytic menggunakan limit tidak aktif selama 30 menit. Periode 30 menit ini disebut batas waktu. Ilustrasinya seperti ini:

Ketika audience tidak melakukan aktivitas selama 30 menit, maka session akan berakhir (yang artinya proses pencatatan interaksi antara audience dengan web atau app dihentikan).

Google Analytics (dan sebagian tools analytic lainnya) menggunakan rentang antara hits pertama dan terakhir.

Rentang hits yang dipakai session untuk mencatat aktivitas audiens

Meski begitu, rentang 30 menit tersebut bisa di-custom (diubah) sesuai kebutuhan. Hal ini diperlukan ketika kita memiliki konten yang membutuhkan lebih dari 30 menit masa tidak aktif audience.

Misal: konten berupa video dengan durasi 60 menit.

Selama menonton video berdurasi 60 menit, audience cenderung tidak melakukan hits apapun (kecuali hanya watching the video). Oleh sebab itu, memperpanjang limit masa tidak aktif akan diperlukan untuk mempermudah proses analisa perilaku audiens.

Kita sudah tahu bahwa hits dikelompokkan ke dalam session. Selanjutnya, kita mempelajari bahwa session pun akan dikelompokkan ke dalam user.


Siapakah users?

Users bisa dianalogikan sebagai tamu yang masuk ke dalam web atau app dalam rentang waktu tertentu.

Umumnya, users dianggap sebagai anonim. Untuk mempermudah proses pencatatan pada server tools analytic, maka users akan diidentifikasi dengan menggunakan nomor anonim atau serangkaian karakter khusus.

Secara teknis, tools analytic akan mengidentifikasi users pada saat ia pertama kali masuk ke web atau app. Identitas users tersebut akan direkam oleh tools analytic hingga masa rekam berakhir atau dihapus secara manual.

Session dari user yang sama akan dikelompokkan bersama info user-ID dalam rentang waktu tertentu oleh tools analytic

Setelah users mendapat identitas, info tersebut akan diteruskan ke server tools analytic beserta sekumpulan hit data (atau kita sebut session) milik user. Selanjutnya, tools analytic akan mengelompokkan session menggunakan info identitas user.


Website users adalah...

Di era multi platform ini, users dikelompokkan menjadi dua, website dan mobile users. Di bagian ini, saya akan jelaskan soal website user. Namun bukan soal definisinya, melainkan cara kerja tools analytic pada proses perekaman data.

Oke, lanjut.

Untuk memperoleh data website user, tools analytic menggunakan cookie.

Menurut Mozilla, Cookie adalah serangkaian teks yang disimpan pada komputer  oleh situs web yang kita kunjungi. Cookie menyimpan pengaturan atau preferensi untuk situs web tertentu, misal: bahasa yang dipilih, atau lokasi (negara) kita. Ketika kembali ke situs web tersebut, browser akan mengirimkan cookie tersebut kepada web bersangkutan. Cara ini memungkinkan web menampilkan informasi yang sesuai dengan pengaturan atau preferensi kita.

Cookie berisi data anonymous identifier (seperti penjelasan saya sebelumnya).  Setiap ada data hits yang dilakukan user, maka data tersebut akan dikirim terlebih dulu oleh browser ke cookie dari tools analytic (yang telah disimpan sebelumnya). Selanjutnya, gabungan antara session dan data anonymous identifier terbaru tersebut akan dikirim kembali server tools analytic.

Saat melakukan perekaman data pada web, tool analytic menggunakan cookie pihak pertama untuk menyimpan ID anonim.

Masih membahas soal cookie.

GA menggunakan cookie first party yang terhubung ke domain tertentu. Cookie ini hanya bisa dipakai oleh satu domain. Misal blog webanalis.com ini, cookie web ini hanya milik (serta berisi data session dari anonymous identifier) tertentu.

Pada tool analytic, cookie umumnya diberi nama _ga dan berlangsung selama dua tahun. Di versi GA sebelumnya, cookie diberi nama __utma.

Hal paling menyenangkan dari cookie first party yaitu sebagian besar browser mengizinkan cookie jenis ini berjalan di platform-nya.

Meski begitu, cookie first party memiliki satu kelemahan yaitu ketika user berpindah ke web lain (yang notabene itu merupakan web kita juga), maka akan dibuat 2 cookie yang berbeda.

Tools analytic cenderung menggunakan cookie first party untuk merekam session dan anonymous identifier

Di beberapa situasi, tetap ada 1 cookie yang dibuat oleh browser. Namun, hal tersebut membutuhkan pengaturan GA yang tepat.

Katakan kita memiliki 2 cookie dari 2 web milik kita sendiri. Ini akan menjadi "merepotkan" saat ingin membuat metrik revenue per user. Solusinya, kita bisa menggunakan third party cookie. Jenis cookie ini memungkinkan kita mencatat aktivitas user (yang berpindah dari satu web ke web lain) hanya dengan 1 cookie saja.

Third party cookie bisa digunakan untuk merekam data multiple domain

Kabar baiknya, sebagian tools analytic mengijinkan penggunanya memakai third party cookie. Kabar buruknya, tidak semua browser mengijinkan cookie jenis ini berjalan di platform-nya.


Mobile user merupakan...

Let's talk about mobile technology!

Mobile tracking (perekaman pada smartphone) memiliki kemiripan dengan web tracking. Anonymous identifier didapat ketika user menginstal app. Ketika user menghapus app pada device-nya, maka anonymous identifier akan terhapus. Namun tidak demikian saat ia meng-update app. Anonymous identifier akan tetap tertanam pada device-nya.

Perbedaan mencolok antara web dan mobile yaitu soal cookie. Pada mobile, perekaman data internal tidak menggunakan cookie, melainkan device database. Meski begitu, secara fungsi keduanya memiliki kesamaan.

Namun demikian, ada satu problem lagi pada proses tracking app mobile ini yaitu kebanyakan app berjenis hybrid app/website.

Saya sadur dari codepolitan, hybrid app adalah aplikasi web yang ditransformasikan menjadi kode native pada platform seperti iOS atau Android. Jenis app ini memanfaatkan browser agar app tersebut bisa mengakses berbagai fitur di device mobile seperti Push Notification, Contacts, atau Offline Data Storage.

Sederhananya, app secara sengaja menjalankan browser di dalam dirinya sendiri. Cara seperti akan mengaburkan proses pengumpulan data.

Fenomena duplicate hits akan terjadi bila sebuah app didesain cara seperti demikian

Solusi untuk memecahkan fenomena ini masih jauh. Apabila sudah ada, saya upayakan untuk segera menuliskannya di blog ini.

Sampai di sini, penjelasan soal users, sessions dan hits sudah selesai. Saya akan lanjutkan ke penjelasan soal Google analytic lainnya. Stay tune!

Featured image by Dmitrii Kharchenko