Staying small & sustainable: fokus menumbuhkan bisnis yang sehat


Di artikel ini, tokoh utama yaitu Skift dan Rafat Ali.

Dimulai pada 2010...

Skift diinisiasi oleh Rafat Ali. Ia adalah....

Image by LinkedIn

Hidupnya semakin menanjak kala perusahaan media digital (PaidContent) miliknya terjual jutaan dolar. Dengan uang itu, apa yang ia lakukan?

Dia memulai hidup sesuai dengan keinginan kebanyakan orang. Ali traveling keliling dunia selama beberapa bulan. Ini adalah pelajaran pertama dari Ali.


Keep creative and see the future anytime

Uang jutaan dolar tidak dibuatnya berleha-leha, melainkan mencari ide untuk melangkah lebih jauh.

Kenapa kita butuh "bisikan ide" di setiap saat? Menurut Cambridge Assessment International Education:

Image by Blog.cambridgeinternational.org

Lanjut soal Ali.

Setelah dua tahun berkelana, berkunjung ke:

  • Gunung Api Eyjafjallajökull di Islandia
  • Mengeksplor Tunisia
  • Tinggal bersama penduduk lokal di Mongolia

Ali tercetus ide untuk membangun perusahaan bernama Skift: perusahaan digital trade media and research di industri travel.

Image by skift.com

Apa alasan membangun Skift?


Metode ATM dalam bisnis

Ali memang ikut-ikutan membangun perusahaan digital media di bidang travel, tetapi tidak "meniru" saja. Ia berdasar statistik.

Di tahun 2012, dimana Skift lahir, bisnis digital media sedang naik daun. Sebelum Skift, sudah ada:

  • Business Insider
  • BuzzFeed
  • Vox Media
  • Vice

Keempatnya tumbuh cepat. Bayangkan saja, tiga tahun setelah Skift dirilis:

  • Business Insider terjual $450 million.
  • Voxa serta BuzzFeed yang memperoleh investasi ratusan juta dolar berkat valuasi perusahaan yang mencapai miliaran dolar.

Meski ikut tergiur dengan bisnis digital media dan beberapa bisnis lain di industri traveling, Ali tetap fokus dengan keputusannya.

Alih-alih menumbuhkan audiens (pembaca) secepat mungkin, Ali lebih tertarik untuk membangun bisnis yang smaller, sustainable, dan fokus untuk making money. Pilihan Ali ini tentu cukup berani. Namun, sangat sehat bagi bisnisnya.

Di kala artikel ini dipublikasikan, kita bisa lihat bahwa BuzzFeed dan Vice tersandung. Sebaliknya, Skift tetap meraih keuntungan yang stabil.

Image by techcrunch.com/2019/01/23/buzzfeed-layoffs-2019/

Konsisten membangun bisnis yang profitable

Ali membangun Skift bersama Jason Clampet, mantan editor Frommer.

Untuk membangun Skift, mereka berdua mendapatkan dana segar lebih dari $2.5 million dari investor dari Lerer Hippeau, perusahaan Venture capital yang berbasis di New York serta telah menjadi investor bagi BuzzFeed dan Refinery29.

Menurut Ali, permasalahan utama bagi perusahaan sekelas BuzzFeed, yang telah menghabiskan $500 juta selama 8 tahun dari para investor dan ribuan staff di belakangnya adalah

"Muncul gap antara keinginan founder dengan investor. Founder ingin perusahaan yang ia bangun tumbuh dan mendapatkan keuntungan jangka panjang. Sedangkan investor berharap perusahaan yang diinvestasi olehnya memiliki valuasi yang tinggi dan cepat melakukan exit."

Pelajaran ini amat sulit dipahami dan diterima oleh Ali. Pun mungkin oleh para founder lainnya. Kala itu, ia mencoba mendapatkan pendanaan baru di tahun 2014. Skift kehabisan uang.

Para investor mau kembali menggelontorkan dana segar asal Skift mau tumbuh secepat kilat. Pada akhirnya, Skift tidak lagi mendapatkan "sumber hidup baru".

Ali pun bersikap tegas.

Ia putuskan untuk berhenti menggantungkan Skift pada "aliran uang" dari pihak luar, investor.


Hari ini, bagaimana kabar Skift?

Hingga artikel ini dipublikasikan, Skift konsisten mendeskripsikan dirinya sebagai “intelligence and marketing platform” di industri travel dengan hanya 60 staff. Berdasarkan statistik, Skift pun cukup membuat Ali tersenyum. Skift memperoleh:

  • 1.5 juta pengunjung bulanan
  • Pemasukan lebih dari  $10 juta

Yang terpenting bagi Ali, Skift mampu berdampak besar bagi banyak orang. Meski tumbuh secara pelan dan tetap berstatus perusahaan "kecil".

Image by Similiarweb.com

Untuk mencapai kondisi seperti demikian, Ali menyetir Skift supaya tetap fokus pada "Perjalanan wisata dan liburan". Selain itu, Skift pun dituntun untuk melakukan liputan mendalam dan penelitian yang menarik bagi pelanggan setia-nya.

Sebagai informasi, pelanggan Skift merupakan perusahaan dan eksekutif di bidang perjalanan wisata liburan. Para pelanggan ini dengan "senang hati" menyerahkan sebagian uangnya untuk membaca riset, newsletter, dan datang ke konferensi yang diadakan oleh Skift.

Menurut Ali, apabila dirinci sumber penghasilan Skift bermuara dari:

  • 40% dari advertiser-sponsored content and traditional ads
  • 40% sisanya dari tiket konferensi dan sponsorships
  • 20% sisanya lagi berasal dari research business.

Yang menarik dari Skift adalah research business. Revenue model seperti ini cukup unik sekaligus menguntungkan.

Bayangkan saja, Skift menjual laporan tahunan di 20 industri selama setahun. Topik utamanya soal airline marketing dan potensi blockchain di bidang travel. Pemasukan dari pembeli individual yang berlangganan selama setahun mencapai $2,000 dengan jumlah pelanggan mencapai 400.000.

Meski demikian, menurut Ali,  sebagian besar pelanggan adalah perusahaan yang meminta negosiasi harga langganan dengan jumlah total dikisaran 10.000 dan 15.000 total pembaca.

Dari ini semua, Ali tersenyum seraya berkata "Rencanaku berjalan sesuai perkiraan".

Menurut Ali, perusahaan yang berbasis di New York City dan berusia 6 tahun ini minim penghasilan atau bahkan hampir "tutup buku" sejak tahun 2015. Namun di tahun 2018, Skift mengalami pertumbuhan revenue yang membahagiakan. Ali pun berharap, tahun 2019 ini pendapatan Skift tumbuh 30 hingga 35 persen.


Fokus untuk bertahan hidup di ekosistem yang rawan

Skift bukan perusahaan besar dengan kucuran dana segar yang selalu ada. Setidaknya, ia tidak seperti BuzzFeed, Vice, Huffington Post, Mashable, dan Digital media lain yang booming selama beberapa tahun belakangan.

Bagaimana dengan Skift?

Skift berjalan dengan caranya sendiri. Berjalan lambat, tetapi memahami siapa yang menjadi pelanggannya. Cara ini sangat brilian. Ali memutuskan untuk seperti demikian setelah menyadari bahwa...

"Ekspansi yang terlalu cepat akan meningkatkan biaya besar pula".

Contohnya BuzzFeed. Situs ini memiliki 85 juta pengunjung unik setiap bulan di AS dan memiliki valuasi $1,7 miliar. Sayangnya, mimpi buruk ada di depan managemen BuzzFeed. Pendapatan perusahaan turun 20 persen dari target pendapatan tahun 2017.

Image by variety.com

Benar apa kata Ali, ekspansi website yang cepat menimbulkan kenaikan biaya. Akibatnya, PHK karyawan terjadi dimana-mana dan rencana perusahaan untuk IPO menjadi angan-angan.

Di Januari, BuzzFeed berencana mengurangi tenaga kerja hingga 15 persen atau lebih dari 200 orang. CEO BuzzFeed Jonah Peretti dalam memo internal kepada karyawan mengumumkan bahwa perusahaan tumbuh "dua digit" pada 2018, tetapi itu tidak cukup.

Peretti menambahkan...

Restrukturisasi akan mengurangi biaya dan meningkatkan modal operasi. Manfaatnya, perusahaan lebih cepat berkembang, uang yang terkumpul lebih banyak, dan perusahaan lebih bebas memutuskan nasibnya sendiri.

BuzzFeed tidak sendirian.

Pada Februari 2017, Vice Media yang memperoleh valuasi USD 5,7 miliar mengumumkan rencana merumahkan 250 pekerjaan, atau sekitar 10 persen dari tenaga kerja perusahaan. Keputusan in diambil untuk memotong arus pengeluaran perusahaan yang terlalu besar.

Begitu pula nasib HuffPost.

Pilihan sulit pun diambil manajemen HuffPost, ia memberhentikan sekitar 20 karyawan pada Januari. Situasi ini menyesuaikan perusahaan induknya, Verizon Media, yang berencana merumahkan 750 karyawan di beberapa gerai miliknya, termasuk AOL dan Yahoo.

Kisah yang sama pun dialami multi-platform media and entertainment company, Mashable.

Mashable terpaksan harus dijual senilai USD 50 juta pada tahun 2017. Padahal, valuasinya di beberapa tahun lalu diangka lima kali lipat di tahun 2017.

Apakah gelombang devisit yang dialami oleh beragam perusahaan digital media tersebut terhenti? Tidak. Mic adalah korban berikutnya.

Mic merupakan media digital yang fokus membahas politik pada 2011. Sayangnya, managamen Mic mengubah arah perusahaan. Mereka memasukkan beragam berita ke dalam website miliknya. Yang semula politic analysis berubah menjadi media tentang berita, opinion, reviews and analysis around arts, entertainment, celebrity, LGBTQ, social justice, police brutality, dating, sex, feminism, body positivity, dan lain-lain.

Apa yang terjadi pada Mic?

Perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Akibatnya, Mic memberhentikan 100 lebih jurnalis pada bulan November. Valuasi perusahaan pun turun drastis dari USD 100 juta menjadi USD 5 juta. Angka ini menurut Bustle Digital Group, pemilik Mic yang baru, merupakan angka yang pantas bagi Mic di waktu tersebut.

Kondisi seperti demikian akan terus terjadi bilamana sebuah digital media "terlalu murah" menjual konten kepada semua orang. Satu-satunya jalan bagi perusahaan digital media yaitu mengikuti jalan mereka sendiri. "Subjektif dan dan melangkah lebih mendalam."


Plus-minus bertahan untuk tumbuh tetap "kecil"

Gejolak industri digital media ini tidak dirasakan oleh semua perusahaan digital media lain. Syaratanya, perusahaan mau melakukan sesuatu yang berbeda.

Dan... Skift bukan satu-satunya perusahaan yang "selamat" dari mimpi besar yang menjerumuskan. Ada Axios.

Axios merupakan media yang dirintis oleh Politico Jim VandeHei dan mantan penulis politik Politico Mike Allen pada 2017. Axios Media mendapatkan pendanaan USD 30 juta menurut The Wall Street Journal dan memperoleh pendapatan dua kali lipat di tahun 2018 senilai USD 25 juta. Angka sebesar ini dilalui oleh Axios dengan 150 karyawan.

Sebut juga Business Insider.

Mereka memiliki valuasi berlipat pada 2018. Di tahun 2015, Axel Springer membeli perusahaan senilai USD 343 juta dan meningkat sekitar $ 450 juta. Peningkatan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh ambisi Henry Blodget (SEO Business Insider) yang fokus pada disiplin pertumbuhan dan menemukan pembeli potensial.

Menurut Ali, tidak ada yang mengharuskan setiap perusahaan digital untuk terpaku pada pertumbuhan jangka panjang. Sajian bukti empiris sebelumnya pun tetap meragukan dan tidak rasional bagi sebagian besar Founder. Oleh sebab itu, ambisi perusahaan untuk fokus pada pertumbuhan jangka panjang atau pendek mutlak keputusan masing-masing perusahaan.

Faktanya...

  1. Pendapatan Axios dan Skift masih jauh lebih sedikit daripada BuzzFeed (yang mencapai 300 juta pada 2018).
  2. Skift tidak bersaing dengan situs-situs yang lebih besar dan terkenal.

Skift sendiri hanya bersaing dengan media publikasi industri perjalanan yang memiliki sekitar satu juta pengunjung bulanan, serta Northstar Travel Media yang memiliki pendapatan USD 80 juta pertahun, yang dijual ke perusahaan ekuitas swasta pada tahun 2016.

Berdasarkan kondisi yang seperti demikian, pemimpin perusahaan idealnya memilih strategi yang relevan dan tidak "terprovokasi" untuk mengikuti tren yang sedang booming.

Menurut Brian Wieser, analis media senior di Pivotal Research:

Penerbit informasi setidaknya perlu memiliki cita-cita untuk menghasilkan informasi yang  berkualitas tinggi. Tetap "kecil" itu tidak apa-apa. Asalkan tumbuh menjadi perusahaan yang kuat. Setidaknya, kondisi yang disengaja "kecil" memiliki resiko yang lebih rendah dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Wieser menambahkan:

Penerbit kecil mungkin lebih siap untuk menghadapi naik-turunnya model bisnis berbasis iklan.

Sayangnya, logika Wieser tersebut memiliki kelemahan, ia pun menyadari hal tersebut. Wieser pun melengkapi bahwa...

Kondisi tetap "kecil" seperti ini berpotensi menyebabkan peluang penurunan revenue yang tinggi. Ketika perusahaan berhadapan dengan situs periklanan lain yang lebih "agresif", seperti Google dan Facebook, maka potensi kehilangan jumlah pelanggan akan semakin besar.

Di sisi lain, model bisnis yang mengandalkan tiket konferensi dan langganan research business akan dirasa "mahal" oleh pengguna baru. Akibatnya, biaya perusahaan untuk mengakuisisi pelanggan baru akan membengkak.

Pada akhirnya, pemimpin perusahaan pun harus "kreatif" menarik pelanggan baru. Alih-alih mengeluarkan biaya akuisisi sebanyak mungkin.

Salah satu strategi paling brilian yaitu...

Fokus menghasilkan informasi bernilai dan mendalam. Upaya seperti demikian bertujuan menarik para pelanggan baru agar merasa "layak" menghargai biaya langganan atau tiket konferensi di kemudian hari.

Semakin banyak pelanggan yang mau membayar, maka semakin solid perusahaan.

Ali pun senada dengan Wieser. Skift memiliki filosofi untuk tumbuh ramping dan mengumpulkan uang sesedikit demi sedikit. Pilihan Ali dengan tetap "kecil" membuat perusahaan:

  1. Bertahan "hidup" dengan pendapatannya sendiri
  2. Melakukan ekspansi bisnis berupa pembelian buletin Airline Weekly pada bulan September
  3. Meluncurkan yayasan nirlaba yang berekspansi ke Asia yang berbasis di Singapura
  4. Melakukan liputan mendalam soal business of wellness. Meski sedikit bertentangan dengan fokus Skift, Ali merasa ada keterkaitan erat antara bisnis traveling dan kesejahteraan.

Melangkah pelan dan hati-hati memungkinkan Skift mengelola sumber daya perusahaan semaksimal mungkin. Sembari, menghasilkan uang tanpa menggali "lubang keuangan" yang cenderung mempengaruhi keputusan perusahaan.

Ketika kita tidak memiliki uang yang "mengalir tanpa henti", disiplin adalah modal berharga agar perusahaan tetap bertahan.

Artikel ini telah dipublikasikan dengan judul This digital media company is the anti-BuzzFeed — it's making money by staying small oleh CNBC.com.