Panduan setting content grouping di Google Analytics


Tahu tentang layanan content grouping milik Google analytics?

Konten adalah raja. Setiap hari, proses produksi konten terus berlangsung. Jumlahnya pun mencapai jutaan dalam sehari.

Di satu sisi, fenomena tersebut "memanjakan" audiens sebab mereka memiliki lebih banyak referensi terkait info yang ingin diketahuinya. Bagi digital analytic, fenomena ini sedikit merepotkan.

Proses analisa ribuan konten tidak lah mudah. Untungnya, saat ini muncul fitur content grouping. Apa itu?

Saya kutip dari Google, content grouping merupakan fitur pengelompokan konten dimana kita diperbolehkan mengelompokkannya ke dalam struktur logis (skenario business rules situs atau app).

Secara teknis, content grouping bekerja dengan mengkategorikan konten berdasarkan business rules kita.

Keuntungannya, ketika menganalisa performa konten kita cukup melihat data konten berdasarkan specific groups (yang telah dibuat sebelumnya) dan tidak perlu lagi melihat data berdasarkan URL laman atau screenview yang jumlahnya amat banyak.


Perbedaan groupings dan groups

Sebelum lebih jauh membahas content grouping, kita perlu memahami perbedaan makna dari kedua istilah tersebut karena keduanya akan kita gunakan (serta memiliki fungsi yang berbeda) di GA secara bersamaan.

Penjelasan sederhananya seperti ini:

Kita bisa membuat multiple content groupings di Google Analytics. Di masing-masing content groupings, kita bisa membuat multiple content groups. Selanjutnya, di dalam content group terdapat multiple konten yang berada di dalam halaman-halaman web atau screenview di app.

Di setiap content grouping terdapat multiple content group. Serta, content group sendiri terdiri dari multiple konten web atau app

Kita diperbolehkan membuat multiple content groupings di GA serta meng-switch-nya di dashbord GA untuk mempermudah proses analisa data.

Contohnya di bawah ini, terdapat content groupings bernama Blog Content Categories. Di dalamnya berisi sejumlah kategorisasi konten blog dengan tipe-tipe tertentu, yaitu:

  • Group blog post
  • Group halaman about me
  • Group halaman error (404)  

Apabila dicermati kembali, pengelompokkan content groupings tersebut berdasarkan struktur URL blog.

Kita bisa melihat data konten blog dengan berdasarkan groups (kategorisasi tertentu) tanpa perlu memeriksa satu-persatu URL atau screen name bahkan judul konten

Di sisi lain, konten yang tidak ditambahkan ke dalam content group tertentu secara otomatis akan dikelompokkan ke dalam content groups bernama (not set). Pengelompokkan ini juga menandakan bahwa kita sedang membuat dimensi baru pada data laporan GA dengan tujuan mempermudah proses analisa web atau app.


Pengaturan groupings & groups di GA

Perlu dikatehui, GA tidak menyediakan layanan otomatisasi pada proses pembuatan content groupings sehingga kita perlu mengaturnya secara manual. Arahkan cursor ke menu settings dan pilih content groupings.

Pengaturan content groupings pada halaman setting GA

Bila di-klik, kita bisa melihat daftar content groupings default yang telah dibuat oleh GA. Silakan pilih new group untuk membuat content groupings baru.

Kumpulan content grouping default yang sudah disediakan oleh GA

Untuk membuat daftar content groupings baru, kita bisa menggunakan 3 cara:

  1. Metode tracking code
  2. Metode extraction
  3. Metode rules

Panduan lengkapnya saya tuliskan di bawah ini.


3 Cara pembuatan content groupings

Metode pertama: tracking code

Pada metode ini, kita perlu memasukkan kode script tertentu ke dalam beberapa halaman atau app. Kode tersebut akan mengatur content groups grup saat halaman (yang sesuai dengan kategorisasi) dimuat pada browser atau app.

ga('create', 'UA-XXXXXXXX-Y', 'example.com');
ga('set', 'contentGroup5', 'Group Name');
ga('send', 'pageview');

Bilamana kita sedang berkutat dengan sistem informasi iOS, maka kode script akan tampak seperti ini:

id tracker = [[GAI sharedInstance] trackerWithTrackingId:@"UA-XXXX-Y"];
[tracker set:[GAIFields contentGroupForIndex:5]
value:@"Group Name"];

Kita bisa mengatur 5 content groups dengan menggunakan tracking code ini. Setiap groups secara otomatis akan diasosiasikan dengan nomor urut (1 hingga 5) seperti yang terlihat pada kode script di atas.

  • Keuntungan: Otomatis menyesuaikan perubahan pada konten
  • Kekurangan: Butuh tenaga IT untuk konfigurasi awal

Metode kedua: extraction

Metode ini sering juga disebut dengan metode get it. Yang maksudnya, content groupings akan secara otomatis mengelompokkan content groups yang mengandung kata tertentu.

Contoh nama content groups yang otomatis dikelompokkan ke dalam content groupings

Agar proses get it berjalan sesuai skenario, kita perlu memasukkan keyword tertentu dan di belakangnya disertai expression.

Metode extraction secara otomatis akan menarik konten yang relevan dengan keyword dan berada pada dimensi data
Bila merasa awam soal expression, alangkah baiknya selepas membaca artikel ini lanjutkan membaca tentang regular expressions (regex).

Apabila kita tidak memasukkan reguler expression, maka nilai di dalam tanpa kurung () akan diekstrasi secara otomatis menggunakan nilai sebagai nama grup (bisa berupa number atau karakter).

Metode ini sangat memudahkan kita untuk me-manage halaman produk pada e-commerce yang jumlahnya amat banyak. Syaratnya, penamaan produk diformat dengan baik.

  • Kelebihan: Tidak ada pengaturan kode script.
  • Kekurangan: Kita perlu memperbarui ekspresi reguler saat menambahkan konten baru ke web atau app. Khususnya, konten yang tidak sesuai dengan skenario.

Metode ketiga: rules

Metode ini serupa dengan metode extraction. Bedanya terletak pada proses input. Pada metode ini, kita perlu memasukan nama group secara manual. Ingat, secara manual.

Kita wajib memasukkan nama groups secara manual dengan memilih metode ini

Sama halnya dengan metode extraction, kita pun bisa menarik konten di dalam dimensi data (judul dan alamat url konten) bilamana dimenis value konten sesuai dengan rule yang telah dibuat.

  • Kelebihan: Tidak membutuhkan kemampuan coding. Tidak perlu tahu ekspresi reguler.
  • Kekurangan: Kita wajib ingat untuk memperbarui rule baru ketika konten baru ditambahkan atau ada perubahan url web atau screenname app.

Additional information

Kita diijinkan menggunakan ketiga metode itu secara bersamaan.

Bila ditelusur lagi, logika berpikir atau skenario pada proses content groupings ini yaitu:

  • Pertama, GA menerapkan metode tracking code terlebih dahulu.
  • Kedua, GA menerapkan metode extraction.
  • Ketiga, menerapkan metode rule.
FYI: satu halaman atau screenview pada app hanya bisa masuk ke dalam satu content groups saja dalam satu waktu saja. Selain itu, pengaturan content groups ini tidak bisa diterapkan pada historis. Seluruh metode hanya akan berlaku saat metode-metode tersebut dikonfigurasi.

Mengingat kondisi dari fitur content groupings yang seperti demikian, sangat dianjurkan menerapkan specific rules lalu diikuti oleh general rules. Skenario seperti demikian menyebabkan seluruh konten yang lolos specific rules "ditangkap" oleh general rules.

Skema specific ke general membuat seluruh konten web atau app akan dikelompokkan secara terstruktur sehingga mudah untuk dipahami

Sebelum melakukan konfigurasi content grouping lebih jauh, pastikan kita telah menentukan nama-nama groups yang mudah dipahami dan meng-ilustrasikan data sesuai kebutuhan bisnis.

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih telah menyimak artikel ini hingga bagian akhir. Pengaturan pada GA sangat kompleks dan cenderung membingungkan. Oleh sebab itu, sebisa mungkin saya akan jelaskan satu-persatu segala hal terkait GA ini dengan bahasa yang nonteknis sehingga mudah kita pahami bersama.

Sekian, dan stay tune!

Featured image by Ghani Pradita