Google trends: analisa keyword & implementasi pada digital marketing


Gabungan antara riset kata kunci dan layanan google trends sangat powerfull untuk website bisnis. Caranya?

Google trands seringkali kalah pamor dengan Google keyword planner. Meski keduanya sama-sama menampilkan grafis statistik hasil pencarian pengguna internet, GKP (baca: google keyword planner) selalu jadi pilihan utama.

Oleh sebab itu, di artikel ini kita akan pelajari cara mengoptimalkan google trends sebagai...

  • Tools untuk keyword research
  • Content marketing strategy

Kita mulai dari karakter data yang dikumpulkan oleh google trends.


Google trends dianggap serupa dengan GKP, yaitu memiliki data hasil pencarian (pengguna internet) sepanjang waktu. Padahal tidak. Supaya lebih gamblang melihat perbedaan keduanya, kita bandingkan hasil pencarian ini.

Perbandingan search query antara Google trends dengan GKP.

Bila dilihat sekilas, kedua grafis statistik tersebut sama. Perbedaannya, Google Keyword Planner menampilkan absolute search volume data, sedangkan Google Trends menunjukkan the search query relative popularity.

Keterangan: relative popularity merupakan rasio antara volume penelusuran query dengan jumlah volume pencarian dari semua kemungkinan query.

Secara teknis, berikut penjelasan dari Google:

Google trends menampilkan search query yang sederhana, dimana setiap poin data dibagi dengan total pencarian geografis serta rentang waktu yang diwakilinya.

Agar data lebih mudah dipahami, Trends melakukan penyekalaan angka dengan rentang 0 hingga 100 berdasarkan proporsi topik dari seluruh pencarian.

Selain itu, Trends (baca: google trends) juga...

  • Mengeliminasi penelusuran berulang dari orang yang sama agar gambaran yang didapat menjadi lebih sederhana.
  • Hanya menampilkan data untuk istilah populer (volume rendah muncul berupa angka 0).

Selanjutnya, coba kita cermati dan tiru bagaimana Trends mengolah data query "Facebook" selama 12 bulan terakhir di US.

Grafik statistik "Facebook" pada Google trends

Agar seperti grafis statistik di atas, kita asumsikan bahwa:

  • Jumlah Google searches di US selama sebulan sebanyak 10 Miliar
  • Search volume query "Facebook" di US sebanyak 83 Juta

Berdasarkan 2 asumsi tersebut, kita buat tabel seperti demikian:

Tabel asumsi bagaimana grafik Google Trends tercipta

Selanjutnya, kita ...

  • hitung relative popularity sebagai rasio dari query search volume dan total number of searches
  • Buat skala nilai tersebut secara proporsional sehingga nilai maksimum adalah 100.
  • Masukkan hasil dari perhitungan pada grafik

Bila semua itu sudah kita praktikkan, maka akan muncul grafik berikut ini:

Simulasi dari hasil perhitungan manual serupa Google Trends

Dari simulasi yang telah kita lakukan, ada 2 hal penting yang perlu kita perhatikan:

  • Search term popularity berubah ketika search volume query berubah (lihat Mei 2017 - Juni 2017)
  • Search term popularity pun berubah jika total number of searches berubah, meski pun search volume query konstan (lihat Juni 2017 - Juli 2017).

Akhirnya, kita pun tahu bahwa topik yang populer di Google Trends tidak selalu berkorelasi dengan search volume query.

Meski menampilkan grafis statistik yang sering berbeda, kadangkala antara Trends dan search volume query memiliki kesamaan. Salah satunya pada keyword "Star Wars".

Trends terkadang menampilkan menunjukkan absolute search volume query

Image di atas menggambarkan bahwa Trends juga terkadang menampilkan trend search volume dan “popularity” trend secara bersamaan.

Trend search volume merupakan statistik yang dihasilkan oleh GKP, dan tools analisa keyword lainnya. Sedangkan, “popularity” trend merupakan statistik pencarian dari Google Trends.

Karakter Trends yang cukup "labil" tersebut membutuhkan beberapa panduan khusus agar mampu optimal bagi situs bisnis. Caranya?


Identifikasi trend musiman sebelum membuat & promosi konten

Kita pasti sadar bahwa search volumes di beberapa keywords dipengaruhi pada moment tertentu (trend pada suatu waktu). Contoh fenomena "umbrella" di US.

Dua moment umbrella di US (Februari dan Juni)

Sedangkan di Australia, fenomena "umbrella" juga terjadi pada Desember.

Moment "umbrella" di Australia

Kita lihat, keyword "umbrella" di US populer di bulan Juni sedangkan di Australia terjadi pada bulan Desember.

Oleh sebab itu, Trends cocok dijadikan sebagai tools prediksi kapan waktu produksi dan pemasaran produk yang efektif dengan cara:

  • Meriset dan merancang produk atau layanan baru pasca masa puncak berlangsung
  • Membuat konten yang relevan (sesuai popular query di Trends) menjelang momen puncak
  • Mengoptimalkan halaman-halaman yang relevan sebelum momen puncak terjadi
  • Melakukan promosi online secara besar-besar masih sebelum momen puncak

Hindari “keyword unicorns”

Jangan terburu-buru memproduksi konten hanya berdasar kata kunci saja. Konfirmasi "kekuatan" kata kunci tersebut dengan Trends juga.

Sebagai contoh, kita riset 2 kata kunci dengan Keyword Difficulty (KD) yang hampir serupa, yaitu fidget spinner dan yoyo.

Perbandingan keyword difficult, CPC, volume dan click pada kata kunci "fidget spinner" dan "yoyo"

Meski memiliki KD (baca: keyword difficulty) yang sama, nyatanya volume fidget spinner lebih besar dibanding yoyo: 903.000 untuk fidget spinner dan 47.000 untuk yoyo. Apabila dilakukan riset lebih jauh, hasilnya lebih mengherankan kembali.

Grafis statistik fidget spinner dan yoyo di Trends

Fidget spinner ternyata hanya "angin lalu". Yoyo jauh lebih potensial meski volume query jauh dibawah spinner. Dan faktanya, fenomena spinner pun hilang bak ditelan bumi.

Belajar dari hal ini, ada baiknya kita melakukan kroscek dua kali sebelum menarget content marketing supaya bujet produksi content marketing tidak terbuang sia-sia.


Prediksi peak moment

Trends cocok dipakai sebagai tools prediksi peek moment topik content marketing. Untuk melakukannya, coba buka kembali Trends.

Preview hasil trending searches Trends

Apabila kita membuat content marketing dengan topik yang sedang peak tersebut, maka it's to late.

Supaya lebih jelas, ambil contoh lain. Misal kata kunci "Oscars".

Peek moment Oscars

Peek moment terjadi pada 5 march yang dimulai pada 4 hingga 8 march. Butuh 3 hari agar topik mampu mencapai peek moment.

Di Indonesia, ada keyword yang cukup unik sebagai bahan content marketing yaitu "hari ibu".

Peek moment keyword "hari ibu"

Ya, ada dua peek moment. Pada 21 April diperingati Hari Kartini, sedangkan pada 13 Mei merupakan moment peringatan Hari Ibu di US.

Belajar dari grafis tersebut, maka kita produksi dan mem-publish content marketing bertopik "Hari Ibu" maksimal 3-4 hari sebelum kedua peek moment terjadi.


Sebagai content calender

Trends, selain menjadi prediksi content marketing, tools ini bisa juga dimanfaatkan sebagai content calender.

Peek moment yang terjadi secara berulang di setiap tahun

Hasil grafik di atas amat berguna bagi mereka yang bergerak pada topik celebrity gossip.