Tata cara migrasi dari classic analytics ke universal analytics


GA merilis layanan universal analytics. Apa manfaat dan bagaimana cara menerapkannya pada dashboard GA?

Universal analytic merupakan generasi baru Google analytics. Meski sudah dirilis sejak 2012, saya masih sangat antusias untuk membagikan panduan mengenai hal ini. Kenapa demikian? Karena UA [baca: universal analytics] memiliki 7 fitur serta 4 fitur tambahan yang akan segera dirilis, di antaranya:

Standard website metrics. Semua metrik favorit kita ada di dalam layanan ini, misal: visitors, visits, pageviews, time, dst. Selain itu, informasi standart seperti  geographic location, referral sources, marketing campaigns, dst pun ada di dalamnya.

Ecommerce tracking. Meski baru, kita tetap bisa mengoleksi data transaksi ecommerce dengan layanan Universal Analytics ini.

Event tracking. Fitur ini amat sangat berguna bagi kita untuk men-tracking beragam jenis interaksi audiencs dengan web atau app, misal: reading article.

AdWords Linking. Sama halnya dengan classic analytics, kita tetap bisa menghubungkan AdWords account (atau mulitple accounts) dengan Universal Analytics.

Custom Variables. Custom variables diganti dengan fitur baru bernama Custom Dimensions. Ada 2 perbedaan mendasar di antara keduanya. Pertama, kita memperoleh tambahan hingga 20 custom dimensions. Kedua, kita hanya butuh skill coding yang minim untuk menerapkan custom dimension di webb atau app.

Custom Metrics. Ini merupakan layanan baru yang ada di dalam fitur custom dimensions. Di dalamnya, kita akan bisa melakukan pengaturan spesifik terhadap web atau app kita.

Easier configuration. Keunggulan utama layanan GA Universal analytics yaitu mengenai perdorma server. Di masa depan, kita tidak lagi memerlukan kustomisasi JavaScript code. Alasannya, proses integrasi web atau app dengan search engine akan diterapkan secara default.

Selain 7 fitur itu, Universal analytic pun ditengarai akan menambahkan beberapa fitur lainnya, yaitu:

Content Experiments. Di awal rilis, Universal Tracking code tidak mendukung terhadap Content Experiments. Bilamana ingin mendapatkan data dari fitur Content Experiments audiens, maka kita perlu menunggu hingga UA [baca: universal analytic] mendukung layanan tersebut.

Remarketing with Google Analytics. Harus kita akui, ini adalah layanan favorit bagi semua digital analytic. Sayangnya, fitur ini belum kita pakai di UA.

AdSense Integration. Sebelumnya, kita bisa meng-import AdSense data, seperti revenue, ke dalam Google Analytics. Sayangnya, untuk menikmati fitur ini di UA, kita perlu menunggu beberapa waktu ke depan.

Cross device tracking. Ini akan jadi komponen terpenting di UA. Layanan ini diperkirakan akan membantu para digital analytic untuk lebih memahami audiens. Sayangnya, kita perlu menunggu beberapa waktu ke depan supaya bisa mendapat manfaatnya.


[Baru] JavaScript Tracking Code

Ada satu hal lagi yang membuat UA berbeda dengan GA sebelumnya, yaitu soal kode tracking JavaScript. UA tidak lagi memakai kode script lama bernama ga.js, melainkan memakai script code bernama analytics.js.

Kode script ini bisa diimplementasikan di web, mobile apps, dan device jenis lainnya. Untuk saat ini, kita bisa mendapatkan kode script baru ini di Admin Section dashboard GA.

Masukkan kode script UA ini ke dalam halaman web atau screenname apps

Agar web atau apps kita bisa termonitor di layanan UA, maka tempatkan kode ini di dalam section <head> dan </head>.

Tempatkan kode script di dalam section head

Selanjutnya, kita akan memperoleh data berupa:

  • Visitor count
  • Number of visits
  • Pageviews
  • Geographic location of your visitors
  • Referral information
  • Device information

Namun, data tersebut tidak langsung kita terima setelah memasukkan script tracking. Setidaknya, kita harus menunggu antara 4 hingga 24 jam. Setelahnya, kita bisa memperoleh data secara realtime.

Secara lebih jelas, kode tracking UV kurang lebih akan terlihat seperti demikian:

< script >
(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,'script','//www.google-analytics.com/analytics.js','ga');

ga('create', 'UA-YYYYY-XX', 'namadomain.com');
ga('send', 'pageview')
< /script >;

Bisa jadi, pada bagian UA-YYYYY-XX dan namadomain.com akan berbeda. Keduanya berubah sesuai web atau app kita.

Sebagai tambahan informasi, script code di atas terdiri dari 2 bagian yang termuat di dalamnya:
Pertama. Sebelumnya, kode script ini bernama ga.js, tetapi berubah menjadi analytics.js. Oleh sebab itu, bagian pertama ini bertugas memberitahu kepada web library kita bahwa nama kode script berubah, dari ga.js menjadi analytics.js.

(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,'script','//www.google-analytics.com/analytics.js','ga');

Apabila diperhatikan kembali, analytics.js ternyata tidak memuat ecommerce code sama sekali. Pada UV, ecommerce code sengaja di-split (dibuat terpisah) untuk mempercepat load situs. Lalu, dimana meletakkan ecommerce code? Kode ini akan ditempatkan di halaman transaksi.

Selain itu, analytics.js ini tetap menggunakan kode asynchronous. Kode asynchronous merupakan jenis script tracking yang tidak membuat loading web menjadi lama.

Kedua. Bagian selanjutnya terlihat seperti ini:

ga('create', 'UA-YYYYY-XX', 'namadomain.com');
ga('send', 'pageview')
< /script >;

Secara teknis, kode script tersebut memiliki 2 action:

  • Action 1: Google Analytics menghubungkan tag ini dengan akun kita. Caranya, dengan menerapkan perintah create.
  • Action 2: Setelah terhubung, tracking object akan mengirimkan setiap data hit dari web atau app ke server GA kita. Data hits yang dimaksud di sini yaitu pageview. [FYI, pembahasan mengenai data hits sudah dibahas di halaman 3 jenis data pada digital analytics]

Universal Analytics Cookies

Soal tracking aktivitas audiens di web, cookies yang digunakan sama seperti GA sebelumnya, yaitu 1 cookie atau first party cookie. Dulu, GA pernah menerapkan 4 hingga 5 cookie. Efek negatifnya, loading situs menjadi lambat.

Cookies yang kita maksud di sini bukan makanan, melainkan serangkaian teks yang disimpan pada komputer oleh situs web yang kita kunjungi. Sumber: Mozilla

UV menggunakan first party cookie yang bernama _ga dan terlihat seperti ini:

_ga=1.2.838838867.1359565579161

Note: bisa jadi urutan angka akan berbeda pada cookie situs kita. Perbedaan ini terkustomisasi secara otomatis menyesuaikan web atau app kita.

Secara teknis, cara kerja cooki sebagai berikut:

  • Cookie akan mengidentifikasi identitas pengunjung web. Caranya, seluruh pengunjung akan digeneralisir sebagai anonymous, selanjutnya setiap pengunjung akan mendapat identitas baru berupa random number atau random special character. Selanjutnya, identitas "baru" tersebut akan disimpan pada cookie browser pengunjung.
  • Cookie yang berisi identitas "baru" pengunjung ini akan dikirim sepaket dengan data hit (berisi sessions, visits, conversions, pages, dan seterusnya) ke server GA. Pada akhirnya, paket tersebut akan dipergunakan untuk calculate visits, visitors dan campaign metrics.

Umumnya, cookie akan disimpan di browser pengunjung selama 2 tahun. Namun, durasi tersebut bisa kita ubah sesuai kebutuhan. Panduan mengenai cara mengubah durasi cookie bisa kita baca di sini.


Universal Analytics dan GTM

Apa itu GTM? GTM adalah singkatan dari Google Tag Manager. Di kesempatan ini, kita mulai berkenalan dengan namanya Google Tag Manager, apa itu?

Saya kutip dari blog Andreas Wijaya, Google Tag Manager merupakan fitur dari Google Analytics (GA) untuk membantu digital marketer me-manage tag. Caranya, GTM akan memetakan kebiasaan audiens di dalam web berdasarkan jenis tag-tag tertentu. Penjelasan lebih lengkap soal GTM akan saya tulis di artikel berikutnya.

Terkait dengan UV, kita bisa pula mengimplementasikan UV ke dalam dashboard GTM. Caranya:

Cara menggunakan universal analytics ke dalam GTM

Satu hal yang perlu dicatat soal perubahan jenis analytic ini yaitu ia mampu mengukur beragam teknologi (beragam plarform dan device). Oleh sebab itu, di artikel berikutnya topik UV tidak jarang akan ikut terbahas. Dan, pembahasan soal cara menggunakan google analytics akan saya lanjutkan melalui artikel berikutnya.

Terima kasih,

Salam.

Featured image by Magda